9 Kunci Mendidik Anak

5 11 2008

Mendidik anak? Wah gampang-gampang susah ato susah-susah gampang ya…
Coba deh terrapin 9 kunci di bawah ini, sapa tau mendidik anak jadi gampang-gampang… gampang.

1. Dasarnya: percaya diri
Anak membentuk kepercayaan dirinya melalui suasana lingkungan. Nada suara, bahasa tubuh, dan ekspresi Anda akan diserap oleh anak. Kata-kata dan tindakan Anda sebagai orang tua akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak.

Pujian akan membuat anak bangga, membiarkan mereka melakukan hal yang mereka inginkan untuk dirinya sendiri, akan membuat mereka merasa sanggup melakukan sesuatu dan mandiri. Sebaliknya, membandingkan anak dengan anak lain akan membuat mereka merasa tak berguna.

Hindari membuat pernyataan menggunakan kalimat seperti “Bodoh sekali kamu!” atau “Kamu ini, kok, seperti bayi!” Komentar seperti ini akan tertanam dalam diri anak. Sebisa mungkin, pilih kalimat yang tepat saat berbicara dengan anak. Jangan lupa, kemas ucapan itu dalam bingkai kasih sayang. Biarkan anak tahu bahwa semua orang bisa melakukan kesalahan dan Anda tetap menyayanginya, meskipun Anda tidak menyukai perilakunya.

2. Pujian wajib hukumnya
Pernahkah Anda berpikir berapa kali bereaksi negatif pada anak? Mungkin Anda terlalu sering mengkritik ketimbang memuji. Bayangkan seandainya Anda ada di posisi anak. Apa yang Anda rasakan jika setiap saat selalu dikritik?

Pendekatan yang lebih efektif dengan memberitahu anak bahwa ia telah melakukan pekerjaan dengan baik. Misalnya: “Wah, kamu sudah merapikan tempat tidurmu ya. Bagus sekali!” atau “Ibu melihatmu sabar bermain dengan kakakmu. Ibu sangat suka itu.” Pernyataan ini akan menciptakan keberanian pada anak untuk terus berperilaku baik dalam jangka waktu lama. Jadi, cobalah untuk selalu menemukan cara menghargai anak setiap saat. Pujian, sikap bijak dan penuh kasih sayang akan membuahkan hasil kelak setelah Anda dewasa.

3. Konsisten soal disiplin
Disiplin akan menolong anak memilih perilaku yang baik dan belajar mengontrol diri. Anak dapat melihat batas-batas yang Anda kembangkan untuk mereka. Mereka perlu batas-batas tersebut agar bisa bertanggung jawab ketika dewasa kelak. Menciptakan peraturan-peraturan di rumah akan menolong anak mengerti harapan-harapan Anda dan membangun kontrol diri. Beberapa peraturan itu antara lain tak boleh nonton teve sebelum pe-er selesai, tak boleh memukul, tak boleh memanggil nama pada yang lebih tua, atau bercanda yang menyakitkan, dan sebagainya.

Dalam mendisiplinkan anak, yang penting Anda harus konsisten. Jangan mengubah-ubah cara. Anda tak bisa berkata berbeda antara hari ini dan keesokannya. Konsistensi akan mendidik anak berperilaku semestinya.

4. Sediakan waktu
Kesibukan terkadang membuat Anda dan anak-anak sulit berkumpul, sekadar makan malam atau menghabiskan akhir minggu bersama, misalnya. Padahal, kebersamaan sangat penting menjalin kedekatan dengan anak.

Sediakan waktu bersama, misalnya pagi saat sarapan atau jalan-jalan setelah makan malam. Anak-anak yang tidak mendapat perhatian seperti yang mereka inginkan dari orang tua sering berperilaku buruk. Pasalnya, mereka tidak mendapat perlakuan yang baik di rumahnya.

Banyak orang tua yang membuat jadwal waktu luang bersama anaknya secara teratur. Misalnya, membuat kesepakatan bersama anak tiap Selasa makan malam khusus bersama ibu, atau tempelkan kertas berisi catatan di tempat makan anak Anda.

Remaja butuh lebih sedikit perhatian ketimbang anak-anak, karena mereka sudah punya lingkungan sendiri. Nonton konser, ngobrol dengan teman anak, dan bergabung bersama anak remaja Anda akan membuat Anda makin dekat dengannya dan tahu tentang teman-temannya.

5. Jadilah contoh baik
Anak kecil akan belajar berperilaku dari orang tua. Makin dini, makin banyak contoh yang mereka ambil dari Anda. Perilaku Anda dilihat oleh anak. Jadi, sebelum memarahi anak, pikirkanlah, apakah Anda ingin ia berperilaku seperti Anda saat ia marah? Penelitian menunjukkan, anak yang sering memukul temannya memiliki contoh perilaku kekerasan di rumahnya.

Model perilaku yang Anda harapkan pada anak antara lain sikap menghargai, setiakawan, jujur, baik, mau bertoleransi, dan sebagainya. Hindari perilaku egois. Ekspresikan ucapan terima kasih dan pujian. Selain itu, perlakukan anak dengan baik seperti halnya Anda ingin diperlakukan baik oleh orang lain.

6. Prioritasnya: komunikasi!
Anda tak dapat berharap anak melakukan semuanya karena Anda, orang tuanya, mengatakan demikian. Anak-anak menginginkan dan mengharapkan penjelasan seperti
laiknya orang dewasa. Jika orang tua tidak menyediakan waktu menjelaskan, anak pun akan mulai menebak-nebak nilai dan motivasi mereka, serta kemampuan yang mereka memiliki.

Jelaskan harapan-harapan Anda terhadap anak. Jika ada masalah, jelaskan pada anak yang lebih tua, ekspresikan perasaan Anda tentang masalah Anda, dan libatkan anak untuk mencari solusi. Ciptakan diskusi yang melibatkan penjelasan, konsekuensi, agar anak juga bisa belajar. Terbukalah pada pendapat anak. Anak yang ikut berpartisipasi pada pengambilan keputusan akan lebih termotivasi selalu terlibat pada masalah yang sedang dialami keluarganya. Intinya: komunikasi.

7. Lebih baik fleksibel
Jika Anda tak sanggup menghadapi perilaku anak, bisa jadi karena harapan Anda terlalu besar. Kebanyakan orang tua berharap anaknya bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Lingkungan memang memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku anak. Selalu mengatakan “tidak” pada anak usia 2 tahun, misalnya, tentu tidak baik bagi perkembangannya. Sejalan dengan perkembangan anak, ubah cara mendidiknya. Bersikaplah fleksibel, jangan terlalu kaku.

8. Cinta Anda tak terbatas
Sebagai orang tua, Anda bertanggung jawab untuk memperbaiki dan memimpin anak. Namun, bagaimana mengekspresikan petunjuk itu akan memberikan perbedaan cara anak menerimanya. Ketika Anda ingin membuat anak merasa nyaman, hindari selalu menyalahkan, selalu mengkritik, atau mencari kesalahan, yang merendahkan rasa percaya diri anak dan akan mengarah ke kebencian. Pastikan anak tahu, meskipun Anda mengharapkan dia menjadi lebih baik di lain waktu, bahwa Anda tetap menyayangi dan mencintainya.

9. Orang tua bukan Superman
Yang tak kalah penting adalah kesadaran Anda bukan Superman, bukan orang yang sempurna. Anda memiliki kekuatan dan kelemahan. Jadi, kenali kemampuan Anda, miliki pengharapan atas diri Anda, pasangan, serta buah hati Anda. Anda tak harus memiliki semua jawaban atas persoalan yang ada, kok.

Usahakan Anda punya manajemen yang baik dalam mendidik anak. Fokuskan pada hal yang butuh perhatian yang besar. Aku jika Anda tak sanggup. Memerhatikan kebutuhan diri tak lantas akan menjadikan Anda egois. Bisa jadi, kebutuhan Anda penting sebagai contoh bagi anak.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: